EYD Dalam Bahasa Jurnalistik
Saya pikir, materi tentang EYD (Eko Yuni Dharma)upss maksud saya Ejaan yang disempurnakan hanya akan dipelajari hingga SMA.Ternyata...saat ini ni, dibangku kuliah pun juga masih dibahasa malah makin diperdalam.Ya iyalah secara jurusan jurnalistik gitu. Gak mungkinkan anak farmasi belajar EYD he he. Untung aja dosen mata kuliah ini lumayan baek heu heu.
Pada ulusan materi kuliah kemarin, rabu (22/10/08) membahas tentang Penggunaan EYD dalam Bahasa Jurnalistik. Nih belum membahas materinya lho, soalnya pertama-tama yang ditanya Kang Romel mah " keluarkan buku referensi tentang bahasa jurnalistik ". Mungkin hari itu saya lagi apes, buku referensi yang saya bawa ternyata salah. Untung aja saya termasuk kalangan minoritas yang salah membawa buku jadi tertutupi lah kesalahannya ha ha.
EYD dalam bahasa jurnalistik sangat berpengaruh terhadap hasil karya seorang jurnalis. Hal ini dikarenakan masih banyak para jurnalis yang mengabaikan EYD dalam tulisan mereka. Pada bahasan kali ini lebih banyak difokuskan pada kasus kesalahan penulisan EYD yang sering dilakukan oleh para mahasiswa jurnalistik, jurnalis media massa dan penulis. Diantaranya:
A.Penulisan Huruf Kapital
1. Jabatan tidak diikuti nama orang; huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instantsi, atau nama tempat. Misalnya: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat Achmad Heryawan. Namun apabila tidak diikuti nama orang maka jabatan ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: Menurut gubernur Jabar, kota Bandung semakin hari kian panas.
2.Huruf pertama nama bangsa
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa. Misalnya : bangsa Indonesia, bahasa Inggris.
3.Nama geografi sebagai nama jenis
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: berlayar ke selat sunda, bukan selat Sunda.
4.Setiap Unsur bentuk kata ulang sempurna; huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintahan, dll. Misalnya : Yayasan Ilmu - Ilmu Sosial, bukan Yayasan Ilmu - ilmu Sosial.
5.Penulisan kata depan dan kata sambung;huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata terkecuali di, ke, dari, dan, yang, untuk.
B.Penulisan Huruf miring
1.Penulisan nama buku; huruf miring ditegaskan dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan. Misalnya : Buku Jurnalistik Indonesia, seharusnya Buku Jurnalistik Indonesia
2.Penulisan Penegasan Kata; huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata. Misalnya: Hobinya adalah surfing, seharusnya hobinya adalah surfing.
3.Penulisan kata nama ilmiah; huruf miring dan cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah dan ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan ejaanya.
C.Penulisan kata turunan
1.Gabungan kata dapat awalan akhiran
2.Gabuangan kata dalam kombinasi
D.Penulisan Gabuangan kata
1.Penulisan gabuangan kata istilah khusus
2.Penulisan gabuangan kata serangkai;misalnya: acapakali, kacamata,sukacita.
E.Penulisan partikel
1.Partikel pun; partikel pun yang harus ditulis terpisah: apa pun, kapan pun. Partikel pun yang harus ditulis tidak terpisah: maupun, kalaupun.2.Penulisan partikel per; ... menerima gaji per bulan...
F.Penulisan singkatan
1.Penulisan singkatan umum tiga huruf
2.Penulisan singkatan mata uang
G.Penulisan Akronim
1.Akronim nama diri; misalnya: Universitas Padjajaran (UNPAD).
2.Akronim bukan nama diri; misalnya: Pemilu (Pemilihan Umum).
H.Penulisan Angka; penulisan Rp 7.867.456.421.821 menjadi 7,86 triliun.
I. Penulisan Lambang Bilangan
1.Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
2.Penulisan lambang bilangan awal kalimat
3.Penulisan lambang bilangan utuh
4.Penulisan lambang bilangan angka-huruf
Selasa, 28 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar