Setiap media cetak maupun elektronik mempunyai standarisasi terhadap penggunaan kata-kata. Hal ini lah yang menimbulkan munculnya berbagai macam istilah yang menjadi ikon atau ciri khas media cetak maupun media elektronik itu sendiri. Namun istilah-istilah “baru” itu harus tetap dalam aturan tata bahasa indonesia. Itulah yang termuat dalam kebijakan redaksi sebuah media yaitu aturan mengenai jenis, materi tulisan yang boleh ditambilkan namun semua itu harus tetap mengacu pada aturan EYD.
Dulu “Pikiran Rakyat” kurang menaati aturan penggunaan EYD dalam setiap kali penulisan berita. Namun sekarang hal tersebut menjadi hal utama yang sangat diperhatikan oleh sang editor. Pada harian Kompas penulisan gelar Prof DR tidak membubuhi titik pada setiap akhir gelar. Sedangkan dalam aturan EYD penulisan setiap gelar wajib dipisahkan dengan tanda titik seperti, Prof.DR. Dalam aturan EYD penulisan ALLAH adalah Allah, namun disebagian besar media cetak ada yang menulis allah, ALLAH, dll. Begitupun dalam penulisan kitab suci umat islam yaitu Al-quran. Pada sebagian besar media cetak ada yang menulis al-quran, Al-Quran, Al-Qu’an dan al-Qur’an.
Penulisan awalan di apabila diikuti dengan kata kerja, maka penulisannya disatukan. Misalnya: dimakan, dimasak, dibaca,dll. Penulisan awalahn di apabilan diikuti dengan kata keterangan tempat, maka penulisannya dipisah. Misalnya: di sana, di mana, di rumah, di sekolah.
Penulisan kata depan pada merupakan isyarat yang menunjukkan waktu. Misalnya: pada saat, pada malam, pada bulan, pada tahun, pada hari.
Penulisan partikel ”pun” juga dipisah terkecuali yang sudah serangkai.
Jangan mengawali sebuah kalimat dalam paragaraf dengan angkat.
Misalnya: 12 orang tewas dalam kecelakaan maut bus Bandung- Pucak.
Seharusnya: Dua belas orang tewas dalam kecelakaan dalam kecelakaan maut bus Bandung- Puncak.
Belasan orang tewas dalam kecelakaan maut bus Bandung- Puncak.
(05/11/08)
Kamis, 06 November 2008
Selasa, 04 November 2008
sepuluh pedoman b. pers
Sepuluh pedoman bahasa pers
1. Bahasa pers tuch, punya pedoman…jadi kita gakan bias seenaknya ajah gunain bahasa pers. Pedomannya dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesi) tahun 1980.
2. Niy isinya:
3. Wartwan hendaknya secara konsukwen melaksanakan pedoman ejaan B.Indonesia yang disempurnakan
4. Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan atau akronim
5. Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuhan, bentuk awal atau prefiks
6. Wartawan hendaknya menulis dengan kelimat-kalimat pendek, tapi jelas, logis dan teratur.
7. Wartawan hendaknya menjauhkan dari ungkapan klise atau stereotype yang sering dipakai dalam transisi berita.
8. Wartawan hendaknya menghilangkan kata mubajir. Seperti: adalah, telah, dll.
9. Wartawan hendaknya mendisiplinkan pikirannya supaya jangan campur aduk dalam satu kalimat pasif.
10. Wartawan hendaknya menghindari kata-kata asing. Kaaupun terpaksa, maka harus dijelaskan sejelas-jelasnya
11. Wartawan hendaknya sedapat mungkin menaati kaidah tata bahasa.
12. Wartwan hendaknya ingat b. Jurnalistik ialah bahasa yang kounikatif dan spesifik sifatnya.
• Kamu juga musti tau, tentang perbedaan ”singkatan” dan ”akronim”
• Singkatan adalah huruf pertama saja yang diambil. Sedangkan
• Akronim adalah gabungan suku kata
• Supaya jelas. Kita lihat contohnya yuuuuu:
• Minyak tanah : singkatan= MT
: akronim= MINAH
• Dan tulisan juga kita sering banget nemuin kata-kata atau kalimat yang gak logis. Apalagi dilirik lagu....
• Nih misalnya : saat kau, kau belai rambutku
: tak ingin, tak ingin kau rapuh
Padahal jika dikatannya hanya sekali maknanya tidak akan berubah kan?
• Oia kawan, adalagi nih kata klise atau stereotype atau bisa disebut juga kata jenuh
Contohnya : sementara itu
: dapat ditambahkan
: perlu diketahui
: dalam rangka
: selanjutnya
:lalu
: kemudian,
: dll
Biar lebih jelas banget, kita liat contoh kalimatnya yaaa:
Dalam rangka menyambut hati sumpah pemuda, mahasiswa UIN BDG melakukan unjuk rasa. Padahal bisa dirubah menjadi
Menyambut hari sumpah pemuda, mahasiswa UIN BGD melakukan unjuk rasa
• Eh ada lagi, di bahsa jurnalistik juga ada yang disebut dengan klimat mubajir tau berlebihan.
Nih contohnya : adalah
: telah
: untuk
: dari
: bahwa,
: dll
Ininih contoh kalimatnya:
Rio adalah seorang pembalap motor, padahal bisa menjadi
Rio seorang pembalap motor
Naaaaaahhhhh!!!!!!!!!!!! Jadi buat semua wartawan dan calon wartawan diseluruh dunia....CAMKAN tulisan diatas, sedikit tapi mudah-mudahan
bermanfaat....terimakasih kepada dosen bahasa jurnalistik yang saya kagumi ”kang Romel”
Rossi Aprilyani
207400513
Jurnalistik C/3
1. Bahasa pers tuch, punya pedoman…jadi kita gakan bias seenaknya ajah gunain bahasa pers. Pedomannya dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesi) tahun 1980.
2. Niy isinya:
3. Wartwan hendaknya secara konsukwen melaksanakan pedoman ejaan B.Indonesia yang disempurnakan
4. Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan atau akronim
5. Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuhan, bentuk awal atau prefiks
6. Wartawan hendaknya menulis dengan kelimat-kalimat pendek, tapi jelas, logis dan teratur.
7. Wartawan hendaknya menjauhkan dari ungkapan klise atau stereotype yang sering dipakai dalam transisi berita.
8. Wartawan hendaknya menghilangkan kata mubajir. Seperti: adalah, telah, dll.
9. Wartawan hendaknya mendisiplinkan pikirannya supaya jangan campur aduk dalam satu kalimat pasif.
10. Wartawan hendaknya menghindari kata-kata asing. Kaaupun terpaksa, maka harus dijelaskan sejelas-jelasnya
11. Wartawan hendaknya sedapat mungkin menaati kaidah tata bahasa.
12. Wartwan hendaknya ingat b. Jurnalistik ialah bahasa yang kounikatif dan spesifik sifatnya.
• Kamu juga musti tau, tentang perbedaan ”singkatan” dan ”akronim”
• Singkatan adalah huruf pertama saja yang diambil. Sedangkan
• Akronim adalah gabungan suku kata
• Supaya jelas. Kita lihat contohnya yuuuuu:
• Minyak tanah : singkatan= MT
: akronim= MINAH
• Dan tulisan juga kita sering banget nemuin kata-kata atau kalimat yang gak logis. Apalagi dilirik lagu....
• Nih misalnya : saat kau, kau belai rambutku
: tak ingin, tak ingin kau rapuh
Padahal jika dikatannya hanya sekali maknanya tidak akan berubah kan?
• Oia kawan, adalagi nih kata klise atau stereotype atau bisa disebut juga kata jenuh
Contohnya : sementara itu
: dapat ditambahkan
: perlu diketahui
: dalam rangka
: selanjutnya
:lalu
: kemudian,
: dll
Biar lebih jelas banget, kita liat contoh kalimatnya yaaa:
Dalam rangka menyambut hati sumpah pemuda, mahasiswa UIN BDG melakukan unjuk rasa. Padahal bisa dirubah menjadi
Menyambut hari sumpah pemuda, mahasiswa UIN BGD melakukan unjuk rasa
• Eh ada lagi, di bahsa jurnalistik juga ada yang disebut dengan klimat mubajir tau berlebihan.
Nih contohnya : adalah
: telah
: untuk
: dari
: bahwa,
: dll
Ininih contoh kalimatnya:
Rio adalah seorang pembalap motor, padahal bisa menjadi
Rio seorang pembalap motor
Naaaaaahhhhh!!!!!!!!!!!! Jadi buat semua wartawan dan calon wartawan diseluruh dunia....CAMKAN tulisan diatas, sedikit tapi mudah-mudahan
bermanfaat....terimakasih kepada dosen bahasa jurnalistik yang saya kagumi ”kang Romel”
Rossi Aprilyani
207400513
Jurnalistik C/3
Senin, 03 November 2008
bahasa jurnalistik
Pada rabu sebelumnya(15 Oktober 08),Pak Romel telah menjelaskan tentang posisi Jurnalistik yang sangat strategis, beliau mengelompokan tentang posisi Jurnalistik menjadi 3 bagian:
1. Ia menjadi bahasa khusus dalam media massa, sehingga dapat digunakan oleh media lain.
Maksudnya: Bahasa Jurnalistik adalah bahasa yang khusus dalam sebuah media massa baik itu media cetak maupun elektronik dan dapat digunakan oleh berbagai media,karena bahasa Jurnalistik sangat dibutuhkan bagi setiap media.
2. Bahasa Jurnalistik dapat menjadi Lab Bahasa dalam Jurnalistik referensi,dan rujukan sehingga menjadi tren senter dalam masyarakat.
Maksudnya: Bahasa Jurnalistik bisa dijadikan pedoman dalam pembuatan reverensi dan rujukan,dan bahasa yang digunakan sangat dimengerti khususnya dalam masyarakat, karena bahasa Jurnalistik bersifat Lugas, Singkat, Padat, dan Jelas.
3. Sub Sistem (Anak Bahasa)dari sistem bahasa Indonesia.
Maksudnya: Bahasa Jurnalistik merupakan anak bahasa dari sistem bahasa indonesia, dan sering digunakan dalam berbagai media, baik media cetak maupun elektronik.
Begitulah penjelasan Pak Romel pada kami, dan kadang selalu diselingi oleh lantunan - lantunan lagu merdu bila dinyanyikan oleh Pak Romel,kami terhibur dan menjadikan perkuliahan kami lebih menarik dan tidak membosankan khususnya bagi saya.
Bandung,4 November 2008
Rara Pratiwi Sungkay
Jurnalistik / C / III
207 400 503
1. Ia menjadi bahasa khusus dalam media massa, sehingga dapat digunakan oleh media lain.
Maksudnya: Bahasa Jurnalistik adalah bahasa yang khusus dalam sebuah media massa baik itu media cetak maupun elektronik dan dapat digunakan oleh berbagai media,karena bahasa Jurnalistik sangat dibutuhkan bagi setiap media.
2. Bahasa Jurnalistik dapat menjadi Lab Bahasa dalam Jurnalistik referensi,dan rujukan sehingga menjadi tren senter dalam masyarakat.
Maksudnya: Bahasa Jurnalistik bisa dijadikan pedoman dalam pembuatan reverensi dan rujukan,dan bahasa yang digunakan sangat dimengerti khususnya dalam masyarakat, karena bahasa Jurnalistik bersifat Lugas, Singkat, Padat, dan Jelas.
3. Sub Sistem (Anak Bahasa)dari sistem bahasa Indonesia.
Maksudnya: Bahasa Jurnalistik merupakan anak bahasa dari sistem bahasa indonesia, dan sering digunakan dalam berbagai media, baik media cetak maupun elektronik.
Begitulah penjelasan Pak Romel pada kami, dan kadang selalu diselingi oleh lantunan - lantunan lagu merdu bila dinyanyikan oleh Pak Romel,kami terhibur dan menjadikan perkuliahan kami lebih menarik dan tidak membosankan khususnya bagi saya.
Bandung,4 November 2008
Rara Pratiwi Sungkay
Jurnalistik / C / III
207 400 503
Langganan:
Postingan (Atom)