Sepuluh pedoman bahasa pers
1. Bahasa pers tuch, punya pedoman…jadi kita gakan bias seenaknya ajah gunain bahasa pers. Pedomannya dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesi) tahun 1980.
2. Niy isinya:
3. Wartwan hendaknya secara konsukwen melaksanakan pedoman ejaan B.Indonesia yang disempurnakan
4. Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan atau akronim
5. Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuhan, bentuk awal atau prefiks
6. Wartawan hendaknya menulis dengan kelimat-kalimat pendek, tapi jelas, logis dan teratur.
7. Wartawan hendaknya menjauhkan dari ungkapan klise atau stereotype yang sering dipakai dalam transisi berita.
8. Wartawan hendaknya menghilangkan kata mubajir. Seperti: adalah, telah, dll.
9. Wartawan hendaknya mendisiplinkan pikirannya supaya jangan campur aduk dalam satu kalimat pasif.
10. Wartawan hendaknya menghindari kata-kata asing. Kaaupun terpaksa, maka harus dijelaskan sejelas-jelasnya
11. Wartawan hendaknya sedapat mungkin menaati kaidah tata bahasa.
12. Wartwan hendaknya ingat b. Jurnalistik ialah bahasa yang kounikatif dan spesifik sifatnya.
• Kamu juga musti tau, tentang perbedaan ”singkatan” dan ”akronim”
• Singkatan adalah huruf pertama saja yang diambil. Sedangkan
• Akronim adalah gabungan suku kata
• Supaya jelas. Kita lihat contohnya yuuuuu:
• Minyak tanah : singkatan= MT
: akronim= MINAH
• Dan tulisan juga kita sering banget nemuin kata-kata atau kalimat yang gak logis. Apalagi dilirik lagu....
• Nih misalnya : saat kau, kau belai rambutku
: tak ingin, tak ingin kau rapuh
Padahal jika dikatannya hanya sekali maknanya tidak akan berubah kan?
• Oia kawan, adalagi nih kata klise atau stereotype atau bisa disebut juga kata jenuh
Contohnya : sementara itu
: dapat ditambahkan
: perlu diketahui
: dalam rangka
: selanjutnya
:lalu
: kemudian,
: dll
Biar lebih jelas banget, kita liat contoh kalimatnya yaaa:
Dalam rangka menyambut hati sumpah pemuda, mahasiswa UIN BDG melakukan unjuk rasa. Padahal bisa dirubah menjadi
Menyambut hari sumpah pemuda, mahasiswa UIN BGD melakukan unjuk rasa
• Eh ada lagi, di bahsa jurnalistik juga ada yang disebut dengan klimat mubajir tau berlebihan.
Nih contohnya : adalah
: telah
: untuk
: dari
: bahwa,
: dll
Ininih contoh kalimatnya:
Rio adalah seorang pembalap motor, padahal bisa menjadi
Rio seorang pembalap motor
Naaaaaahhhhh!!!!!!!!!!!! Jadi buat semua wartawan dan calon wartawan diseluruh dunia....CAMKAN tulisan diatas, sedikit tapi mudah-mudahan
bermanfaat....terimakasih kepada dosen bahasa jurnalistik yang saya kagumi ”kang Romel”
Rossi Aprilyani
207400513
Jurnalistik C/3
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar